Boediono lahir din blitar, 25 Februari 1943. Beliau adalah Wakil
Presiden RI tahun 2009 - 2014. Saat nama Boediono diresmikan sebagai Wakil
Presiden Indonesia mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono, sejumlah pro-kontra
mewarnainya. Kurangnya latar belakang dan pengalaman di bidang politik
membuatnya dianggap tak pantas menjadi 'orang kedua' di Indonesia, walau
akhirnya prestasi Boediono-lah yang meredam semua pro-kontra ini.
Tak
bisa dipungkiri, karir dan pengalaman pria kelahiran 1943 ini di bidang
ekonomi-lah yang membawanya ke kursi wakil presiden. Namanya tercatat sebagai
Wakil Presiden kedua yang berlatar belakang ekonomi dan non-partisan, setelah
Wakil Presiden pertama Indonesia, Mohammad Hatta.
Nama
Boediono sendiri sudah lama terdengar sebelum dirinya menjabat sebagai Wakil
Presiden. Pendidikan ekonomi yang didapatkannya dari Universitas Western
Australia, Universitas Monash, dan Wharton School Universitas Pennsylvania
diterapkan di bidang akademis sekaligus praktis. Suami Herawati ini aktif
mengabdikan diri di bidang akademis dengan menjadi Executive Board for Asia -
Wharton Advisory Boards di almamaternya, Wharton School of the University of
Pennsylvania. Di dalam negeri, Boediono juga masih aktif mengajar sebagai Guru
Besar di Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada.
Tak
hanya berkutat di lingkup universitas, ayah dua anak ini mulai mempraktikkan
ilmunya di tahun 1998. Dirinya diangkat sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan
di Kabinet Reformasi Pembangunan yang dipimpin oleh Presiden BJ Habibie.
Sayangnya, satu tahun kemudian Boediono terpaksa meninggalkan jabatan
pemerintahan karena digantikan oleh Kwik Kian Gie saat Presiden Abdurrahman
Wahid menjabat.
Terbukti,
dirinya tak pernah bisa jauh dari jabatan pemerintahan. Walau sempat tak menjabat,
pria yang berdomisili di Yogyakarta ini kembali ditarik menjadi Menteri
Keuangan di Kabinet Gotong Royong pimpinan Presiden Megawati di tahun 2001.
Prestasi dan kecemerlangannya mulai tampak dengan jabatan ini, salah satunya
adalah dengan melepaskan Indonesia dari ketergantungan pada bantuan Dana
Moneter Internasional sekaligus mengakhiri kerjasama yang selama ini menjadi
beban besar negara. Sejak krisis moneter di tahun 1998, makroekonomi Indonesia
masih belum bisa disebut stabil. Boediono dan Dorodjatun Kuntjoro-Jakti
(Menteri Koordinator Perekonomian)-lah yang akhirnya berhasil menstabilkan kurs
rupiah di angka Rp9000 per dolar AS. Prestasi ini membuat keduanya disebut
sebagai The Dream Team oleh BusinessWeek.
Dengan
prestasi besarnya, Boediono diperkirakan akan tetap bertahan dan menjabat
sebagai Menteri Keuangan di tahun 2004. Ternyata, dirinya digantikan oleh Jusuf
Anwar saat Susilo Bambang Yudhoyono menjabat sebagai Presiden. Keputusan ini
bukan semata-mata berasal dari SBY, namun justru karena Boediono memilih untuk
beristirahat dan kembali aktif di bidang akademis.
Tak
perlu menunggu terlalu lama, setahun kemudian, nama pria berdarah Jawa ini
kembali berada di jajaran Menteri, menggantikan Aburizal Bakrie sebagai Menteri
Koordinator bidang Perekonomian saat SBY mereshuffle kabinetnya. Penggantian
Ical, begitu ia biasa disapa, disambut positif oleh pasar, dengan indikasi
menguatnya IHSG dan mata uang rupiah. Hal ini menunjukkan harapan besar pada
Boediono, yang dianggap mampu sekali lagi menguatkan stabilitas makro-ekonomi
Indonesia.
Karir
Boediono di bidang ekonomi semakin meningkat. Dirinya resmi menjabat sebagai
Gubernur Bank Indonesia di tahun 2008. Sepertinya hampir tak ada kontra atas
pengangkatan Boediono, dengan dukungan berbagai pihak, termasuk Sang Presiden,
pendahulunya Burhanuddin Abdullah, Menteri Keuangan Sri Mulyani, KADIN, serta
seluruh fraksi di DPR kecuali PDIP.
Kiprahnya
sebagai Gubernur Bank Indonesia tak bertahan lama. Boediono digaet Susilo
Bambang Yudhoyono pada Pemilu 2009. Dengan dukungan berbagai partai, termasuk
Partai Demokrat dan 23 lainnya, pasangan tokoh militer-politik dan ekonom ini
melangkah mantap, yang akhirnya resmi menjabat sebagai Presiden dan Wakil
Presiden Indonesia sejak 20 Oktober 2009.
Sang
Presiden punya alasan tersendiri dalam menggaet Boediono sebagai wakilnya.
Sebagai non partisan, pria berkacamata ini dianggap bebas kepentingan, sehingga
mampu melakukan reformasi di bidang ekonomi sesuai dengan ilmu yang
dimilikinya.
Sayangnya,
pendapat ini berseberangan dengan banyak pihak, yang beranggapan Boediono tak
cukup pantas berada di kursi pemerintahan tertinggi setelah Presiden, mengingat
latar belakang politiknya yang minim. Boediono juga dianggap sebagai sosok yang
cukup kontroversial, bahkan disebut sebagai antek IMF, karena jumlah utang
negara yang bertambah secara nominal. Pria ini juga sempat disorot karena
penentangannya terhadap subsidi sembako yang dianggapnya sebagai candu yang
terus memanjakan rakyat.
Tak
hanya kontra yang menemani naiknya Boediono sebagai Wakil Presiden. Sebagian
pihak justru mengagumi prestasinya sebagai ekonom, terutama kala dirinya
menjabat sebagai Menteri. Walau secara nominal jumlah hutang bertambah, secara
rasio hutang negara justru menurun drastis. Pria ini juga menjadi panutan
karena berhasil mewujudkan Undang-Undang Surat Berharga Syariah dan Perbankan
Syariah. Anggapan sebagai antek IMF pun disangkal banyak pihak, karena Boediono
adalah salah satu pihak yang dekat dengan gagasan ekonomi kerakyatan yang
diwujudkannya dalam buku Ekonomi Pancasila.
Boediono
Reviewed by Unknown
on
Agustus 02, 2018
Rating:
Reviewed by Unknown
on
Agustus 02, 2018
Rating:

Tidak ada komentar: